gue inget banget dari dulu dari bocah sampai sekarang yang meskipun sudah besar tapi masih bocah, hidup gue selalu dipenuhi dengan keinginan atau hasrat yang gak pernah berhenti dan lupa buat bersyukur.
bukan. keinginan ini bukan dimaksudkan seperti cita - cita yang ingin kita capai, tapi lebih kearah apa ya bingung sih gue ngasih pengertiannya gimana.
misalnya waktu gue kecil, pernah suatu hari gue berharap bisa dibelikan sebuah mainan kasir - kasir an, nah setelah merengek dengan semua jurus andalan bocah pada era itu, akhirnya kudapatkan mesin kasir - kasir an yang bisa berbunyi "nit - nit", wah pada saat itu gue sangat senang. Tapi gak lama beberapa bulan kemudian gue sudah merengek untuk dibelikan mainan rumah - rumahan dengan embel - embel "temen kakak aja punya".
sesimple mainan itu, makin dewasa gue masih sama, bedanya mungkin dalam konteks yang berbeda.
SMP pun dimulai, ketika anak ABG pada zamannya mengeksplorasi dunia (dunia gaktuh), mulai deh kalau punya temen A, terus ada kekurangan, gamau, cari yang lain, temen B sama, temen C sama, wah gaabis - abis deh, udah kaya paling bener sendiri. gituuu terus, kasarnya sih jd kayak orang yang gak bersyukur. terus SMA, yah sama tapi udah mulai kuranglah.
Hingga akhirnya sekarang gue kuliah dan menyadari betapa tidak bersyukurnya manusia ini. gue sekarang ngerasain bahwa hidup udah bukan waktunya lagi milah - milah, ogah - ogahan, nyari kekurangan buat mencari yang baru, nyari alasan buat membenarkan perlakuan membuang apa yang kita punya dan mendapatkan yang baru.
bukan berarti kita gak boleh punya keinginan, bukan berarti juga kita harus nahan - nahan diri kita sama "sesuatu" yang kita temui terus kita ngerasa sudah tidak mampu lagi bersamanya.
Tapi yang gue sadari itu, ketika lo dikasih Tuhan sesuatu itu harus dinikmati, kalau jenuh ya dicari akar masalahnya apa, di syukuri terlebih dahulu semampu lo. jangan dengan mudahnya membuang, karena bisa saja "sesuatu" itu tidak akan hadir untuk kedua kalinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar